Membedah Sejarah Perang Dagang Global dari Abad ke-20 Hingga Kini

Sejarah Perang Dagang Global

Sejarah Perang Dagang Global bukanlah fenomena baru. Sepanjang sejarah ekonomi modern, negara-negara adidaya telah berulang kali menggunakan tarif, kuota, dan hambatan non-tarif lainnya sebagai alat untuk memproteksi industri domestik atau mencapai tujuan geopolitik. Memahami Pola Perang Dagang Sepanjang Masa adalah kunci untuk memprediksi hasil dari konflik dagang yang sedang berlangsung, termasuk Perang Dagang AS-Tiongkok saat ini.

1. Kasus Smoot-Hawley (1930): Dampak Paling Merusak

kasus smoot hawley perang dagang global

Smoot-Hawley Tariff Act adalah contoh paling ekstrem dan sering dikutip mengenai Pola Perang Dagang Sepanjang Masa yang berakhir dengan bencana.

Artikel Terkait: Perang Dagang dan Teknologi pada Persaingan Chip

  • Latar Belakang: Dikeluarkan oleh Amerika Serikat pada tahun 1930, tujuan awalnya adalah melindungi petani AS. Namun, undang-undang ini menaikkan tarif impor pada lebih dari 20.000 jenis barang ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
  • Dampak Global: Negara-negara lain segera merespons dengan tarif balasan yang sama agresifnya. Perdagangan internasional runtuh. Eskalasi ini memperburuk Depresi Besar di seluruh dunia.
  • Pelajaran: Kasus Smoot-Hawley mengajarkan bahwa proteksionisme sepihak hampir selalu memicu pembalasan, yang pada akhirnya merugikan semua pihak dan dapat menyebabkan kontraksi ekonomi global.

2. Perang Dagang AS-Tiongkok (2018-Saat Ini): Konflik Abad ke-21

Perang Dagang AS-Tiongkok adalah konflik paling signifikan di abad ke-21, berbeda dari Smoot-Hawley karena fokusnya lebih pada teknologi dan praktik non-market daripada sekadar harga.

  • Fokus Utama: Alih-alih hanya tarif, konflik ini juga berpusat pada hak kekayaan intelektual (HAKI), transfer teknologi paksa, dan subsidi pemerintah Tiongkok kepada industri high-tech (misalnya, semikonduktor).
  • Teknologi sebagai Senjata: Perang Dagang AS-Tiongkok memperkenalkan sanksi yang menargetkan supply chain tertentu (seperti pembatasan ekspor chip dan perangkat lunak). Hal ini menciptakan fragmentasi (decoupling) dalam Rantai Pasok Teknologi global.
  • Pola Baru: Meskipun dampaknya tidak separah 1930-an, pola agresi-balasan-agresi tetap ada, menunjukkan bahwa semangat proteksionisme modern cenderung lebih terselubung dan terfokus secara sektoral (misalnya, melalui subsidi) tetapi sama-sama merusak sistem multilateral.

Baca juga: Kasus Korupsi Sepanjang Masa

3. Pola Perang Dagang Sepanjang Masa dan Solusi

Menganalisis Sejarah Perang Dagang Global mengungkapkan beberapa Pola Perang Dagang Sepanjang Masa yang berulang:

  • Penyebab: Konflik sering dipicu oleh ketidakseimbangan perdagangan (defisit), keinginan untuk melindungi industri yang sedang berkembang (infant industries), atau perubahan kekuatan geopolitik.
  • Aktor: Biasanya melibatkan negara atau blok ekonomi terbesar di dunia pada saat itu.
  • Resolusi: Konflik dagang biasanya hanya mereda ketika negara-negara menyadari bahwa biaya yang ditimbulkan oleh pembatasan lebih besar daripada manfaat domestiknya, seringkali melalui pembentukan institusi multilateral yang kuat (seperti GATT, yang kemudian menjadi WTO).

Artikel Terkait: 5 Strategi Negara Berkembang pada Perang Dagang

Pelajaran dari Kasus Smoot-Hawley dan Perang Dagang AS-Tiongkok sama: perdagangan adalah hubungan non-zero-sum. Meskipun proteksionisme menawarkan keuntungan politik jangka pendek, kerugian ekonomi jangka panjang hampir selalu lebih besar, menyoroti pentingnya kepemimpinan yang berkomitmen pada sistem perdagangan berbasis aturan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *